Memaknai Pluralisme dalam Kebangkitan Nasional
Mengamati peluang kebangkitan sebuah Negara dengan tingkat kompleksitas permasalahan seperti di Indonesia, perlu didasari kecerdasan dan kearifan dalam hubungannya dengan pemahaman yang mendasar. Karena boleh jadi keterpurukan bangsa saat ini dipicu oleh pemahaman pesimistis kaumnya yang tidak produktif dari gagasan kebangkitan itu sendiri. Menciptakan asa adalah titik terang dari gumpalan awan permasalahan bangsa ini. Cita-cita merupakan energi terdasyat yang mampu menggerakkan seseorang untuk maju. Para pahlawan yang tersejarahkan memiliki mimpi-mimpi yang jelas dan proses yang continue dalam merealisasikannya. Untuk itu tugas mendasar yang harus sesegera mungkin dilakukan adalah membangun kembali pemahaman realita ke-Indonesia-an dengan kacamata optimisme. Indonesia perlu dipahami dengan cara yang berbeda. Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya Alam baik di darat maupun laut yang secara langsung dapat dibuktikan di lapangan. Keberagaman suku, budaya dan kemajemukan agama mewarnai ruang panggung Indonesia. Fakta diataslah yang seharusnya dibaca dengan cara yag berbeda. Jika awalnya kondisi realitas tersebut menjadi asumsi-asumsi munculnya berbagai permasalahan yang krusial mengapa kita tidak mulai membalikkan asumsi yang ada serta merenungkan kemungkinan lain yang bisa saja muncul dari fakta-fakta tersebut di atas. Pluralisme yang sudah mengakar di Indonesia seharusnya menjadi potensi terbesar dalam mewujudkan kebangkitan nasional sendiri bukan menjadi pemecah atau disintegrasi kesatuan berwarganegara.
Keberagaman budaya dapat memicu pertukaran pengetahuan dan kebiasaan-kebiasan positif dari masing-masing budaya tersebut. Contoh sedehananya yaitu, ketika seorang jawa yang memiliki tingkat kreatifitas yang tinggi bertemu dengan orang Bugis yang memilki etos kerja tinggi maka akan muncul semacam akulturasi positif jika keduanya sanggup untuk meruntuhkan tembok pembatas kulturnya masing-masing. Hal ini dapat berlaku dalam interaksi seseorang ahli displin ilmu tertentu dengan orang lain yang berbeda latar belakang pengetahuannya. Peluang-peluang tersebut seharusnya disadari dan dituangkan dalam ruang pikiran kita dengan berpijak pada gagasan akulturasi. Dalam membangun proyek kebangkitan Indonesia dibutuhkan ide segar yang kreatif dan inovatif. Ide segar tersebut dapat datang dari potensi keragaman yang dimiliki bangsa ini.
Pluralisme bukanlah alasan pembenar bagi disintegrasi suatu tatanan masyarakat namun bagaimana kita memandang pluralisme sebagia asset berharga bangsa dalam mewujudkan kebangkitan bangsa. Kearifan local yang beragam jika dikelola dengan baik sejatinya akan mampu menghasilkan ide-ide positif bagi gerak bangsa ke depan. Kompromi dan toleran terhadap suku maupun agama yang berbeda harus menjadi landasan dalam berinteraksi antar umat agar tercipta keserasian hidup berbangsa dan bernegara. Namun toleransi tersebut tidak mengabaikan hal-hal prinsip yang harus dijalankan dalam ajaran agama maupun budaya masing-masing. Kebangkitan nasional yang akrab diperingati pada tanggal 20 mei seharusnya menjadi pemantik semangat para pemuda untuk bangkit dan meneruskan perjuangan-perjuangan yang tertunda. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh kaum muda untuk membuktikan kecintaannya dengan tanah air Indonesia.
Ada tiga kapasitas yang harus dimiliki oleh para pemuda untuk bekal dalam mewujudkan bangsa yang beradab dan berkeadilan. Kapasitas ketakwaan yang difungsikan sebagai dasar. Ketakwaan yang diharapkan bukanlah ketakwaan secara personal tetapi didefinisikas secara social. Ketakwaan jenis ini akan mampu menghasilkan gerakan kolektif yang berhasil. Kapasitas ini akan membuat seseorang merasa terkontrol, walaupun seseorang memiliki kekuasaan atau jabatan besar dalam kelembagaan, namun mereka akan merasa selalu diawasi oleh Sang Pencipta Yang kedua yaitu kapasitas intelektualitas. Kapasitas intelektual yang mumpuni akan mengubah arah kepemimpinan baru dengan gagasan yang segar pula. Percuma apabila pemuda memilki kapasitas ketakwaan namun secara intelektual ia masih di bawah bayang-bayang gagasan lama, artinya para pemuda hanya akan muncul untuk mengikuti langkah pendahulunya sehingga ia tidak mampu menghadapi permasalahn kedepan yang semakin kompleks, karena tidak memiliki kapasitas intelektual yang diandalkan. Yang terakhir yaitu kapasitas jaringan. Jaringan yang kuat akan menentukan seberapa besar sumber daya yang dapat digunakan dalam meraih suatu tujuan. Semakin luas jaringan maka semakin besar pula sumber daya yang dapat direngkuh dan pengaruh yang dapat dihasilkan oleh pemuda hari ini.
Peluang Indonesia untuk kembali merebut mahkota kejayaannya justru disadari atau tidak, bersemayam dalam rahim kemajemukan yang telah diberi. Persoalannya adalah bagaimana kita mencari sintesis dan meruntuhkan tembok penghalang konservatif yang ada dalam pikiran kita. Dan inilah tanggungjawab pemuda hari ini untuk menyatukan gerak menuju kebangkitan bangsa dalam kultur, agama dan idiologi yang berbeda-beda.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar