Tugas : Individu
Mata
Kuliah : Meteorologi dan Klimatologi
“ANALISIS KLIMOGRAF
UNTUK TANAMAN LADA HITAM”
VINA NURVIANA
13/352719/PGE/01040
GEOGRAFI FISIK
JURUSAN GEOGRAFI
FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014
A. Tanaman Lada Hitam
Klas : Angiospermae.
Sub Klas : Dicotyledone
Genus : Piper
Ordo : Piperales
Famili : Piperaceae
Spesies : Piper nigrum L.
Tanaman lada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu
komoditas tanaman rempah yang hanya dapat tumbuh di daerah tropis. Tercatat
Indonesia merupakan salah satu negara penghasil lada terbesar selain Brazil,
Vietnam, Srilanka, China dan Malaysia. Lada merupakan komoditas penghasil
devisa no-6 setelah karet, sawit, kopi, teh, dan coklat. Kebutuhan dunia
terhadap lada terus meningkat. Tanaman lada penting artinya bagi petani pekebun
terutama di daerah sentra lada yang saat ini adalah di Bangka Belitung untuk
lada putih dan di Lampung untuk lada hitam. Kedua daerah ini merupakan pusat
pertanaman lada di Indonesia. Di samping itu terdapat juga di berbagai daerah
lain yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah. Jawa Barat, Jawa Timur,
Sulawesi Selatan dan lainnya.
Lampung Timur merupakan salah satu kabupaten di Kabupaten Lampung Timur
yang menjadi daerah sentral penghasil lada hitam. Dikatakan sebagai penghasil
utama lada, karena areal tanaman lada Lampung mencapai 63.686 ha dan wilayah kebun
lada yang paling luas berada di Lampung Utara serta Lampung Timur. Di tingkat
dunia (internasional) lada dari Kabupaten Lampung Timur dikenal dengan nama Lampung
Black Pepper . Disebut lada hitam karena
warnanya yang memang hitam. Dalam upaya budidaya tanaman lada, faktor iklim dan
lingkungan sangat mempengaruhi laju pertumbuhan tanaman lada. Berikut ini
merupakan syarat tumbuh tanaman lada :
1.
Iklim
·
Tanaman lada dapat tumbuh di daerah tropis yang
beriklim panas dan lembab.
·
Curah hujan 2.000 – 3.000 mm/ tahun. Pertumbnuhan akan
terhambat bila curah hujan kurang dari 90 mm/bulan dan bulan kering > 3 bulan dengan Bulan Basah 100 mm/bulan, Bulan kering >3
bulan.
·
Kelembaban udara relative : 60 – 80 %
dan suhu rata-rata 20-34°C. Kisaran suhu terbaik adalah 23 – 32°C dengan suhu
rata-rata siang hari 29°C. Kisaran tersebut sebaiknya 21 – 27°C pagi hari, 26 –
32°C siang hari dan 24 – 30OC sore hari. Sedangkan suhu tanah yang baik
berkisar antara 25 – 30°C pada kedalaman 10 cm. Suhu tanah optimal untuk
pertumbuhan akar adalah 26 – 28°C.
·
Tanaman
lada dapat tumbuh dengan baik dengan penyinaran sinar matahari tidak lebih 10
jam per hari.
·
Tanaman
lada dapat tumbuh dengan baik yang memiliki kondisi iklim bervariasi (curah
hujan dan panas yang cukup), dengan tanah yang gembur dan banyak kandungan humus.
·
Angin
sebaiknya, tidak ada angin kencang. Angin yang kencang apabila disertai udara
panas, sangat mengganggu karena dapat merusak keseimbangan antara laju
penguapan, penyerapan dan penyediaan air.
2.
Ketinggian tempat
·
Tanaman lada tumbuh baik di daerah
dengan ketinggian 0 – 500 meter diatas permukaan laut.
·
Kelerengan/kemiringan lahan
maksimal ± 30%.
3.
Jenis tanah
·
Tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman
lada adalah jenis tanah latosol dan podsolik merah kuning.
·
Tekstur tanah subur gembur, remah dengan
pH tanah optimal 5,6 – 5,8.
·
Tidak tergenang atau terlalu
kering.
·
Keasaman tanah pH tanah
5,5-7,0.
·
Warna tanah
merah sampai merah kuning seperti Podsolik, Lateritic, Latosol dan
Utisol.
·
Kandungan humus tanah
sedalam 1-2,5 m.
B. Daerah Asal
Produksi Lada Hitam di Lampung : Kabupaten Lampung Timur
a.
Letak
Geografis
Secara
geografis Kabupaten Lampung Timur terletak pada koordinat 105˚ 15’
Bujur Timur hingga 106˚ 20’ Bujur Timur dan 4˚ 45’
Lintang Selatan hingga 5˚ 39’ Lintang Selatan secara administrasi
wilayah Lampung Timur berbatasan dengan :
·
Disebelah Utara dengan Kecamatan Rumbia, Seputih
Surabaya, Bandar Surabaya dan Seputih Banyak, Kabupaten Lampung Tengah dan
Kabupaten Tulang Bawang.
·
Sebelah Selatan dengan Kecamatan Tanjung Bintang,
Tibung, Palas, dan Sidomulyo Kabupaten Lampung Selatan.
·
Sebelah Timur dengan Laut Jawa, Provinsi Banten dan
DKI Jakarta
·
Sebelah Barat dengan Kecamatan Bantul dan Metro Raya
Kota Metro serta Kecamatan Seputih Raman dan Punggur Kabupaten Lampung Tengah.
b.
Topografi dan Geologi
Menurut
kondisi topografi Kabupaten Lampung Timur dapat dibagi ke dalam 5 (lima)
satuan topografi yaitu :
1.
Daerah berbukit sampai bergunung, terdapat di Kecamatan
Jabung, Sekampung Udik dan Labuhan Maringgai serta Sukadana dengan ketinggian
rata-rata 600 m dpl.
2.
Daerah berombak sampai bergelombang yang dicirikan oleh
bukit-bukit sempit dengan kemiringan antara 8 % hingga 15 % dan ketinggian
antara 50 sampai 200 m dpl.
3.
Daerah dataran alluvial, mencakup kawasan yang cukup
luas meliputi wilayah bagian timur sampai mendekati pantai timur, juga
merupakan bagian hilir dari Way Seputih, Way Sekampung dan Way Pengubuan.
Ketinggian kawasan ini berkisar antara 25 hingga 75 meter dpl dengan kemiringan
0 hingga 3 derajat.
4.
Dataran rawa pasang surut disepanjang pantai timur
dengan ketinggian 0,5 m hingga 1 m dpl.
5.
Daerah aliran sungai yaitu Way Seputih, Way Sekampung,
Way Penet, Way Kambas dan Way Jepara.
c.
Jenis tanah
Jenis tanah rata-rata di Kabupaten Lampung Timur umumnya didominsai oleh jenis
poldosik merah kuning, kekuning-kuningan, latosol coklat kemerahan, latosol
merah, hidromorf kelabu, alluvial hidromorf, regosol coklat kekuningan, latosol
merah kekuningan, alluvial coklat kelabu dan latosol merah.
d. Klimatologi
Kabupaten Lampung Timur
berdasarkan Smith dan Ferguson termasuk dalam kategori B yang dicirikan dengan
bulan basah selama 6 bulan yaitu Desember – Juni dengan temperature rata-rata
24˚C – 34˚C. Curah hujan merata tahunan sebesar
2.000-2.500 mm. Untuk lebih jelasnya,
kondisi iklim kabupaten Lampung Timur dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Data
Klimatologi Kabupaten Lampung Timur selama 10 tahun (2002-2011)
|
Bulan
|
Curah Hujan
|
Temperatur
|
Penyinaran Matahari
|
|
(mm)
|
(⁰C)
|
(%)
|
|
|
Januari
|
314,26
|
26,47
|
43,90
|
|
Februari
|
307,57
|
26,52
|
46,16
|
|
Maret
|
286,99
|
26,64
|
50,90
|
|
April
|
185,40
|
26,92
|
59,53
|
|
Mei
|
111,32
|
27,13
|
62,15
|
|
Juni
|
130,88
|
26,53
|
54,81
|
|
Juli
|
73,39
|
26,30
|
64,14
|
|
Agustus
|
61,01
|
26,53
|
68,91
|
|
September
|
67,65
|
27,11
|
70,09
|
|
Oktober
|
102,59
|
27,35
|
58,93
|
|
November
|
141,70
|
27,08
|
47,22
|
|
Desember
|
323,84
|
26,92
|
43,05
|
sumber
: BMKG Masgar (2002-2011)
C. Daerah yang
diintroduksikan yaitu Kabupaten Jembrana, Bali
a.
Letak Geografis
Kabupaten
Jembrana terletak di sebelah barat Pulau Bali, membentang dari arah barat ke
timur pada 8˚09’30’’ – 8˚28’02’’ LS dan
114˚25’53’’ - 114˚56’38’’ BT. Batas-batas
administrasi Kabupaten Jembrana terdiri dari:
·
Sebelah
Utara : Kabupaten Buleleng
·
Sebelah
Timur : Kabupaten Tabanan
·
Sebelah
Selatan : Samudera Hindia
·
Sebelah
Barat : Selat Bali
Luas
wilayah Kabupaten Jembrana 84.180 Ha atau 14,96 % dari luas wilayah Pulau Bali,
yang terbagi kedalam lima kecamatan dengan rincian sebagai berikut : Melaya,
Negara, Jembrana, Mendaya, dan Pekutatan.
b.
Iklim
Kabupaten Jembrana memiliki dua musim,
yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan terjadi pada Bulan Desember
sampai Maret sedangkan musim kemarau terjadi pada Bulan April sampai Mei. Temperatur
udara berkisar antara 20˚C s/d 39˚C dengan temperatur optimal 29˚C - 32˚C,
kelembapan udara antara 74 s/d 87%, termasuk tipe iklim C sampai D (Scmitdt dan
Ferguson). Untuk lebih jelasnya, kondisi iklim Kabupaten
Jembrana dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini.
Tabel 2. Data
Klimatologi Kabupaten Jembrana selama 10 tahun (2002-2011)
|
Bulan
|
Curah Hujan
|
Temperatur
|
Penyinaran Matahari
|
|
(mm)
|
(⁰C)
|
(%)
|
|
|
Januari
|
261,10
|
27,25
|
58,58
|
|
Februari
|
210,54
|
27,08
|
59,10
|
|
Maret
|
233,58
|
27,14
|
61,09
|
|
April
|
156,40
|
26,96
|
70,26
|
|
Mei
|
187,74
|
26,45
|
73,00
|
|
Juni
|
70,06
|
25,43
|
74,41
|
|
Juli
|
56,61
|
24,66
|
76,96
|
|
Agustus
|
37,50
|
24,66
|
79,03
|
|
September
|
134,05
|
25,60
|
78,97
|
|
Oktober
|
192,68
|
26,80
|
75,21
|
|
November
|
175,00
|
27,42
|
70,47
|
|
Desember
|
280,21
|
27,34
|
49,26
|
sumber
: BMKG Negara Bali (2002-2011)
c.
Topografi
Topografi
wilayah perencanaan meliputi daerah pegunungan di bagian utara dan pendataran (pantai) di bagian selatan yang
berbatasan dengan Samudera Indonesia. Pada bagian tengah merupakan daerah
perkotaan. Berdasarkan tingkat kemiringan lereng, wilayah Kabupaten Jembrana
dapat dikelompokkan kedalam 4 kelompok :
1.
Wilayah
dengan kemiringan lereng 0 - 2% (datar) seluas 210,47 Km²
2.
Wilayah
dengan kemiringan lereng 2 - 15% (landai) seluas 85,49 Km²
3.
Wilayah
dengan kemiringan lereng 15 - 40% (bergelombang/berbukit) seluas 212,45 Km²
sebagian besar merupakan kawasan yang dikembangkan untuk hutan produksi dan
hutan lindung.
4.
Wilayah
dengan kemiringan lereng >40% (curam sampai sangat curam) seluas 333,39 Km²
merupakan kawasan lindung mutlak.
Gunung
yang terdapat di Kabupaten Jembrana berjumlah 17 buah termasuk gunung yang
tidak aktif. Dari jumlah tersebut Kecamatan Melaya mempunyai gunung paling
banyak sehingga topografi di Kecamatan Melaya termasuk berbukit-bukit. Dari 17
gunung yang di jumpai di Kabupaten Jembrana ternyata Gunung Merbuk yang
tertinggi (1.386 m dpl) terletak di Kecamatan Jembrana disusul dengan Gunung
Mesehe (1.300 mdpl) di Kecamatan Mendoyo, Gunung Bangul (1.253 m dpl) di
Kecamatan Negara dan Gunung Lesung (1.047 m dpl) di Kecamatan Mendoyo.
Geologi
Kabupaten Jembrana terdiri dari batuan gunung api yang terdiri dari lava,
breksi, tufa, yang diperkirakan berumur kwarter kawah dan daerah
pedataran yang sebagian daerah persawahan terbentuk dari batuan yang tergabung
dan disebut dengan Formasi Palasari yang terdiri dari batu pasir,
konglomerat dan batu gamping terumbu dan diperkirakan berumur kwarter,
sedangkan untuk daerah pesisir pantai pada umumnya endapan aluvium yang terdiri
dari pasir, lanau, lempung dan kerikil, yang dijumpai di sekitar daerah pantai
di Pengambengan, Tegalbadeng, Perancak, Yeh Kuning, Mendoyo dan dipantai
Gilimanuk. Berdasarkan data peta geologi Kabupaten Jembrana dapat diketahui
bahwa wilayah Kabupaten Jembrana terdiri dari lima jenis batuan yaitu : Formasi
Gamping Agung, Batuan Gunung Api Jembrana, Formasi Palasari, Formasi Alluvium,
Alluvium Formasi Sorga.
d.
Jenis Tanah
Berdasarkan peta jenis tanah
Provinsi Bali wilayah Kabupaten Jembrana terdiri dari beberapa jenis tanah
yaitu:
1.
Tanah Latosol
Coklat dan Litosol (Inceptisol)
Jenis tanah ini tersebar di lima wilayah Kabupaten Jembrana, yang paling
luas terdapat di Kecamatan Mendoyo ( 25.985 ha), di Kecamatan Melaya (16.319
ha) Kecamatan Negara dan Jembrana (14.130 ha) dan Kecamatan Pekutatan (12.169
ha). Jenis tanah ini dibentuk oleh bahan induk abu vulkanik intermadiet
dengan kandungan bahan organik yang rendah sampai sedang dan PH berkisar antara
4,5-5,5.
2.
Tanah Alluvial
Coklat Kelabu
Tanah ini
merupakan tanah endapan sungai dengan luas kurang lebih 10.750 Ha sebagian
besar terdapat di Kecamatan Negara dan Kecamatan Jembrana (5.725 ha).
3.
Tanah Alluvial
Coklat Kelabu
Jenis tanah ini di bentuk oleh bahan induk batuan gamping dengan bentuk
morfologi bergelombang sampai berbukit bukit. Jenis tanah ini mendominasi
wilayah Kecamatan Melaya (1.878 ha).
4.
Tanah Regosol
Cokelat Kelabu
Jenis tanah ini sebagian besar terdapat di Kecamatan Negara dan Kecamatan
Jembrana seluas 772 ha dan di wilayah Kecamatan Mendoyo seluas 648 ha. Tanah
ini terbentuk oleh induk vulkanik intermedier dengan bentuk wilayah landai
sampai berombak.
5.
Tanah Alluvial
Hidromorf
Jenis tanah ini terdapat di wilayah Kecamatan Negara dan Kecamatan
Jembrana khususnya di sepanjang wilayah pantai selatan dan di sekitar Desa
Pengambengan dan Desa Cupel. Luas jenis tanah ini kurang lebih 1420 Ha. Tanah
ini merupakan sedimen darat dan laut yang dibentuk oleh lempeng pasir dan
pecahan karang. Masing masing jenis tanah tersebut diatas mempunyai tekstur
yang berbeda-beda umumnya tekstur wilayah di Kabupaten Jembrana tergolong
tektur halus (kandungan liat sangat tinggi). Sedangkan tekstur kasar (pasir dan
lempung berpasir) merupakan tekstur tanah yang terdapat di sepanjang pantai dari
wilayah Kabupaten Jembrana.
D. Kesesuaian Budidaya Lada Hitam di
daerah introduksi Kabupaten Jembrana, Bali
Untuk mengetahui kesesuaian budidaya lada
hitam di Kabupaten Jembrana dapat di lihat dari perbandingan unsur-unsur iklim
daerah produksi (Kabupaten Lampung Timur) dengan daerah yang dintroduksikan
(Kabupaten Jembrana) dengan menggunakan metode Klimograf. Dalam metode
klimograf, unsur-unsur iklim yang dianalisis yaitu Suhu Udara, Curah Hujan, dan
Penyinaran Matahari. Ketiga unsur iklim ini merupakan unsur yang paling besar
pengaruhnya terhadap kualitas dan kuantitas produksi tanaman lada hitam. Hasil
analisis akan menentukan sesuai atau tidaknya budidaya lada hitam di Kabupaten
Jembrana. Berikut ini klimogram hasil analisis unsur-unsur iklim
Kabupaten Lampung Timur dan Kabupaten Jembrana :
1. Klimograf
temperatur (T) dan Curah Hujan (CH)
Gambar 1. Klimograf Curah Hujan dengan temperatur
Kabupaten Lampung Timur dan Kabupaten Jembrana
2. Klimograf
Temeratur (T) dan Penyinaran Matahari (n/N)
Gambar
2.
Klimograf Penyinaran Matahari dengan Temperatur
Kabupaten
Lampung Timur dan Kabupaten Jembrana
3. Klimograf
Curah Hujan (CH) dan Penyinaran Matahari (n/N)
Gambar
3.
Klimograf Curah Hujan dengan Penyinaran Matahari
Kabupaten
Lampung Timur dan Kabupaten Jembrana
Dari ketiga
klimograf diatas dapat dilihat bahwa ketiganya memiliki pola yang berbeda
(tidak sama). Artinya, unsur-unsur iklim di Kabupaten Jembrana tidak memenuhi
syarat atau tidak sesuai untuk budidaya tanaman lada hitam. Hal ini disebabkan
oleh berbagai faktor, sebagai berikut:
1. Perbedaan
topografi antara Kabupaten Lampung Timur dengan Kabupaten Jembrana. Salah satu
syarat tumbuh tanaman lada hitam adalah dapat tumbuh baik pada ketinggian 0-500
meter dpl.
2. Pola curah hujan yang berbeda antara daerah
produksi dengan daerah introduksi. Di daerah asal Kabupaten Lampung Timur curah
hujan antara 2000-3000 mm/tahun, sedangkan curah hujan pada daerah introduksi
(Kabupaten Jembrana) yaitu < 2000 mm/tahun.
3. Jenis
tanah pada daerah asal (Kabupaten Lampung Timur) berupa latosol dan padsolik
merah kuning yang memiliki ph 5,6-5,8, sedangkan pada daerah introduksi
merupakan jenis tanah yang terbentuk oleh bahan induk vukanik intermedier.
4. Tipe
iklim menurut Scmitdt Furgosen pada daerah asal (Kabupaten Lampung Timur)
beriklim B, sedangkan pada daerah introduksi (Kabupaten Jembrana) tergolong
dalam iklim C sampai D.
DAFTAR PUSTAKA
Tjasjono, Bayong. 1995. Klimatologi Umum. Penerbit ITB Bandung. Bandung
http://www.kidnesia.com/Kidnesia/Potret-Negeriku/Teropong-Daerah/Lampung/Hasil-Bumi/Lada.
Diakses 28 Desember 2013 19:12:00
https://www.google.com/#q=jenis+tanah+di+kabupaten+jembrana.
Diakses 28 Desember 2013 19:15:00
http://www.denpasarkota.go.id/index.php/selayang-pandang/2/Kondisi-Geografi. Diakses 28 Desember
2013 19:18:00
http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/budidaya-lada-syarat-tumbuh-dan-bahan-tanaman.
Diakses 29 Desember 2013 20:30:00