Kamis, 20 November 2014

ANALISIS KLIMOGRAM UNTUK TANAMAN LADA HITAM

Tugas              : Individu
Mata Kuliah  : Meteorologi dan Klimatologi


“ANALISIS KLIMOGRAF UNTUK TANAMAN LADA HITAM”




VINA NURVIANA
13/352719/PGE/01040
GEOGRAFI FISIK



JURUSAN GEOGRAFI
FAKULTAS GEOGRAFI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014

A.  Tanaman Lada Hitam

Klasifikasi  ilmiah menurut Waar dan Zeven (1969), lada termasuk :
Klas : Angiospermae.
Sub Klas : Dicotyledone
Genus : Piper
Ordo : Piperales
Famili : Piperaceae
Spesies : Piper nigrum L.
Tanaman lada (Piper nigrum L.) merupakan salah satu komoditas tanaman rempah yang hanya dapat tumbuh di daerah tropis. Tercatat Indonesia merupakan salah satu negara penghasil lada terbesar selain Brazil, Vietnam, Srilanka, China dan Malaysia. Lada merupakan komoditas penghasil devisa no-6 setelah karet, sawit, kopi, teh, dan coklat. Kebutuhan dunia terhadap lada terus meningkat. Tanaman lada penting artinya bagi petani pekebun terutama di daerah sentra lada yang saat ini adalah di Bangka Belitung untuk lada putih dan di Lampung untuk lada hitam. Kedua daerah ini merupakan pusat pertanaman lada di Indonesia. Di samping itu terdapat juga di berbagai daerah lain yaitu Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah. Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan lainnya.
Lampung Timur merupakan salah satu kabupaten di Kabupaten Lampung Timur yang menjadi daerah sentral penghasil lada hitam. Dikatakan sebagai penghasil utama lada, karena areal tanaman lada Lampung mencapai 63.686 ha dan wilayah kebun lada yang paling luas berada di Lampung Utara serta Lampung Timur. Di tingkat dunia (internasional) lada dari Kabupaten Lampung Timur dikenal dengan nama Lampung Black Pepper . Disebut lada hitam karena warnanya yang memang hitam. Dalam upaya budidaya tanaman lada, faktor iklim dan lingkungan sangat mempengaruhi laju pertumbuhan tanaman lada. Berikut ini merupakan syarat tumbuh tanaman lada :


1.         Iklim
·         Tanaman lada dapat tumbuh di daerah tropis yang beriklim panas dan lembab.
·         Curah hujan  2.000 – 3.000 mm/ tahun. Pertumbnuhan akan terhambat bila curah hujan kurang dari 90 mm/bulan  dan bulan kering > 3 bulan dengan  Bulan Basah 100 mm/bulan, Bulan kering >3 bulan.
·         Kelembaban udara relative : 60 – 80 % dan suhu rata-rata 20-34°C. Kisaran suhu terbaik adalah 23 – 32°C dengan suhu rata-rata siang hari 29°C. Kisaran tersebut sebaiknya 21 – 27°C pagi hari, 26 – 32°C siang hari dan 24 – 30OC sore hari. Sedangkan suhu tanah yang baik berkisar antara 25 – 30°C pada kedalaman 10 cm. Suhu tanah optimal untuk pertumbuhan akar adalah 26 – 28°C.
·         Tanaman lada dapat tumbuh dengan baik dengan penyinaran sinar matahari tidak lebih 10 jam per hari.
·         Tanaman lada dapat tumbuh dengan baik yang memiliki kondisi iklim bervariasi (curah hujan dan panas yang cukup), dengan tanah yang gembur dan banyak kandungan humus.
·         Angin sebaiknya, tidak ada angin kencang. Angin yang kencang apabila disertai udara panas, sangat mengganggu karena dapat merusak keseimbangan antara laju penguapan, penyerapan dan penyediaan air.

2.         Ketinggian tempat
·         Tanaman lada tumbuh baik di daerah dengan ketinggian 0 – 500 meter diatas permukaan laut.
·         Kelerengan/kemiringan lahan maksimal ± 30%.
3.         Jenis tanah
·         Tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman lada adalah jenis tanah latosol dan podsolik merah kuning.
·         Tekstur tanah subur gembur, remah dengan pH tanah optimal 5,6 – 5,8.
·         Tidak tergenang atau terlalu kering.
·         Keasaman tanah pH tanah 5,5-7,0.
·         Warna tanah merah sampai merah kuning seperti Podsolik, Lateritic, Latosol dan Utisol.
·         Kandungan humus tanah sedalam 1-2,5 m.

B.  Daerah Asal Produksi Lada Hitam di Lampung : Kabupaten Lampung Timur

a.    Letak Geografis
Secara geografis Kabupaten Lampung Timur terletak pada koordinat 105˚ 15’ Bujur Timur hingga 106˚ 20’ Bujur Timur dan 4˚ 45’ Lintang Selatan hingga 5˚ 39’ Lintang Selatan secara administrasi wilayah Lampung Timur berbatasan dengan :
·      Disebelah Utara dengan Kecamatan Rumbia, Seputih Surabaya, Bandar Surabaya dan Seputih Banyak, Kabupaten Lampung Tengah dan Kabupaten Tulang Bawang.
·      Sebelah Selatan dengan Kecamatan Tanjung Bintang, Tibung, Palas, dan Sidomulyo Kabupaten Lampung Selatan.
·      Sebelah Timur dengan Laut Jawa, Provinsi Banten dan DKI Jakarta
·      Sebelah Barat dengan Kecamatan Bantul dan Metro Raya Kota Metro serta Kecamatan Seputih Raman dan Punggur Kabupaten Lampung Tengah.

b.    Topografi dan Geologi
Menurut kondisi topografi Kabupaten Lampung Timur dapat dibagi ke dalam  5 (lima) satuan topografi yaitu :
1.    Daerah berbukit sampai bergunung, terdapat di Kecamatan Jabung, Sekampung Udik dan Labuhan Maringgai serta Sukadana dengan ketinggian rata-rata 600 m dpl.
2.    Daerah berombak sampai bergelombang yang dicirikan oleh bukit-bukit sempit dengan kemiringan antara 8 % hingga 15 % dan ketinggian antara 50 sampai 200 m dpl.
3.    Daerah dataran alluvial, mencakup kawasan yang cukup luas meliputi wilayah bagian timur sampai mendekati pantai timur, juga merupakan bagian hilir dari Way Seputih, Way Sekampung dan Way Pengubuan. Ketinggian kawasan ini berkisar antara 25 hingga 75 meter dpl dengan kemiringan 0 hingga 3 derajat.
4.    Dataran rawa pasang surut disepanjang pantai timur dengan ketinggian 0,5 m hingga 1 m dpl.
5.    Daerah aliran sungai yaitu Way Seputih, Way Sekampung, Way Penet, Way Kambas dan Way Jepara.
c.    Jenis tanah
Jenis tanah rata-rata di Kabupaten Lampung Timur umumnya didominsai oleh jenis poldosik merah kuning, kekuning-kuningan, latosol coklat kemerahan, latosol merah, hidromorf kelabu, alluvial hidromorf, regosol coklat kekuningan, latosol merah kekuningan, alluvial coklat kelabu dan latosol merah.
d.   Klimatologi
Kabupaten Lampung Timur berdasarkan Smith dan Ferguson termasuk dalam kategori B yang dicirikan dengan bulan basah selama 6 bulan yaitu Desember – Juni dengan temperature rata-rata 24˚C – 34˚C. Curah hujan merata tahunan sebesar 2.000-2.500 mm. Untuk lebih jelasnya, kondisi iklim kabupaten Lampung Timur dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini.







Tabel 1. Data Klimatologi Kabupaten Lampung Timur selama 10 tahun        (2002-2011)
Bulan
Curah Hujan
Temperatur
Penyinaran Matahari
 (mm)
(C)
(%)
Januari
314,26
26,47
43,90
Februari
307,57
26,52
46,16
Maret
286,99
26,64
50,90
April
185,40
26,92
59,53
Mei
111,32
27,13
62,15
Juni
130,88
26,53
54,81
Juli
73,39
26,30
64,14
Agustus
61,01
26,53
68,91
September
67,65
27,11
70,09
Oktober
102,59
27,35
58,93
November
141,70
27,08
47,22
Desember
323,84
26,92
43,05
sumber : BMKG Masgar (2002-2011)

C.  Daerah yang diintroduksikan yaitu Kabupaten Jembrana, Bali
a.         Letak Geografis
Kabupaten Jembrana terletak di sebelah barat Pulau Bali, membentang dari arah barat ke timur pada 8˚09’30’’ –  8˚28’02’’ LS dan 114˚25’53’’ - 114˚56’38’’ BT.  Batas-batas administrasi Kabupaten Jembrana terdiri dari:
·         Sebelah Utara : Kabupaten Buleleng
·         Sebelah Timur : Kabupaten Tabanan
·         Sebelah Selatan : Samudera Hindia
·         Sebelah Barat : Selat Bali
Luas wilayah Kabupaten Jembrana 84.180 Ha atau 14,96 % dari luas wilayah Pulau Bali, yang terbagi kedalam lima kecamatan dengan rincian sebagai berikut : Melaya, Negara, Jembrana, Mendaya, dan Pekutatan.
b.   Iklim
Kabupaten Jembrana memiliki dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan terjadi pada Bulan Desember sampai Maret sedangkan musim kemarau terjadi pada Bulan April sampai Mei. Temperatur udara berkisar antara 20˚C s/d 39˚C dengan temperatur optimal 29˚C - 32˚C, kelembapan udara antara 74 s/d 87%, termasuk tipe iklim C sampai D (Scmitdt dan Ferguson). Untuk lebih jelasnya, kondisi iklim Kabupaten Jembrana dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini.
Tabel 2. Data Klimatologi Kabupaten Jembrana selama 10 tahun (2002-2011)
Bulan
Curah Hujan
Temperatur
Penyinaran Matahari
 (mm)
(C)
(%)
Januari
261,10
27,25
58,58
Februari
210,54
27,08
59,10
Maret
233,58
27,14
61,09
April
156,40
26,96
70,26
Mei
187,74
26,45
73,00
Juni
70,06
25,43
74,41
Juli
56,61
24,66
76,96
Agustus
37,50
24,66
79,03
September
134,05
25,60
78,97
Oktober
192,68
26,80
75,21
November
175,00
27,42
70,47
Desember
280,21
27,34
49,26
sumber : BMKG Negara Bali (2002-2011)
c.    Topografi
Topografi wilayah perencanaan meliputi daerah pegunungan di bagian utara dan  pendataran (pantai) di bagian selatan yang berbatasan dengan Samudera Indonesia. Pada bagian tengah merupakan daerah perkotaan. Berdasarkan tingkat kemiringan lereng, wilayah Kabupaten Jembrana dapat dikelompokkan kedalam 4 kelompok :
1.    Wilayah dengan kemiringan lereng 0 - 2% (datar) seluas 210,47 Km²
2.    Wilayah dengan kemiringan lereng 2 - 15% (landai) seluas 85,49 Km²
3.    Wilayah dengan kemiringan lereng 15 - 40% (bergelombang/berbukit) seluas 212,45 Km² sebagian besar merupakan kawasan yang dikembangkan untuk hutan produksi dan hutan lindung.
4.    Wilayah dengan kemiringan lereng >40% (curam sampai sangat curam) seluas 333,39 Km² merupakan kawasan lindung mutlak.

Gunung yang terdapat di Kabupaten Jembrana berjumlah 17 buah termasuk gunung yang tidak aktif. Dari jumlah tersebut Kecamatan Melaya mempunyai gunung paling banyak sehingga topografi di Kecamatan Melaya termasuk berbukit-bukit. Dari 17 gunung yang di jumpai di Kabupaten Jembrana ternyata Gunung Merbuk yang tertinggi (1.386 m dpl) terletak di Kecamatan Jembrana disusul dengan Gunung Mesehe (1.300 mdpl) di Kecamatan Mendoyo, Gunung Bangul (1.253 m dpl) di Kecamatan Negara dan Gunung Lesung (1.047 m dpl) di Kecamatan Mendoyo.
Geologi Kabupaten Jembrana terdiri dari batuan gunung api yang terdiri dari lava, breksi, tufa, yang diperkirakan berumur kwarter kawah dan daerah pedataran yang sebagian daerah persawahan terbentuk dari batuan yang tergabung dan disebut dengan Formasi Palasari yang terdiri dari batu pasir, konglomerat dan batu gamping terumbu dan diperkirakan berumur kwarter, sedangkan untuk daerah pesisir pantai pada umumnya endapan aluvium yang terdiri dari pasir, lanau, lempung dan kerikil, yang dijumpai di sekitar daerah pantai di Pengambengan, Tegalbadeng, Perancak, Yeh Kuning, Mendoyo dan dipantai Gilimanuk. Berdasarkan data peta geologi Kabupaten Jembrana dapat diketahui bahwa wilayah Kabupaten Jembrana terdiri dari lima jenis batuan yaitu : Formasi Gamping Agung, Batuan Gunung Api Jembrana, Formasi Palasari, Formasi Alluvium, Alluvium Formasi Sorga.
d.        Jenis Tanah
Berdasarkan peta jenis tanah Provinsi Bali wilayah Kabupaten Jembrana terdiri dari beberapa jenis tanah yaitu:
1.         Tanah Latosol Coklat dan Litosol (Inceptisol)
Jenis tanah ini tersebar di lima wilayah Kabupaten Jembrana, yang paling luas terdapat di Kecamatan Mendoyo ( 25.985 ha), di Kecamatan Melaya (16.319 ha) Kecamatan Negara dan Jembrana (14.130 ha) dan Kecamatan Pekutatan (12.169 ha). Jenis tanah ini dibentuk oleh bahan induk abu vulkanik intermadiet dengan kandungan bahan organik yang rendah sampai sedang dan PH berkisar antara 4,5-5,5.
2.         Tanah Alluvial Coklat Kelabu
Tanah ini merupakan tanah endapan sungai dengan luas kurang lebih 10.750 Ha sebagian besar terdapat di Kecamatan Negara dan Kecamatan Jembrana (5.725 ha).
3.         Tanah Alluvial Coklat Kelabu
Jenis tanah ini di bentuk oleh bahan induk batuan gamping dengan bentuk morfologi bergelombang sampai berbukit bukit. Jenis tanah ini mendominasi wilayah Kecamatan Melaya (1.878 ha).
4.         Tanah Regosol Cokelat Kelabu
Jenis tanah ini sebagian besar terdapat di Kecamatan Negara dan Kecamatan Jembrana seluas 772 ha dan di wilayah Kecamatan Mendoyo seluas 648 ha. Tanah ini terbentuk oleh induk vulkanik intermedier dengan bentuk wilayah landai sampai berombak.
5.         Tanah Alluvial Hidromorf
Jenis tanah ini terdapat di wilayah Kecamatan Negara dan Kecamatan Jembrana khususnya di sepanjang wilayah pantai selatan dan di sekitar Desa Pengambengan dan Desa Cupel. Luas jenis tanah ini kurang lebih 1420 Ha. Tanah ini merupakan sedimen darat dan laut yang dibentuk oleh lempeng pasir dan pecahan karang. Masing masing jenis tanah tersebut diatas mempunyai tekstur yang berbeda-beda umumnya tekstur wilayah di Kabupaten Jembrana tergolong tektur halus (kandungan liat sangat tinggi). Sedangkan tekstur kasar (pasir dan lempung berpasir) merupakan tekstur tanah yang terdapat di sepanjang pantai dari wilayah Kabupaten Jembrana.

D.  Kesesuaian Budidaya Lada Hitam di daerah introduksi Kabupaten Jembrana, Bali
Untuk mengetahui kesesuaian budidaya lada hitam di Kabupaten Jembrana dapat di lihat dari perbandingan unsur-unsur iklim daerah produksi (Kabupaten Lampung Timur) dengan daerah yang dintroduksikan (Kabupaten Jembrana) dengan menggunakan metode Klimograf. Dalam metode klimograf, unsur-unsur iklim yang dianalisis yaitu Suhu Udara, Curah Hujan, dan Penyinaran Matahari. Ketiga unsur iklim ini merupakan unsur yang paling besar pengaruhnya terhadap kualitas dan kuantitas produksi tanaman lada hitam. Hasil analisis akan menentukan sesuai atau tidaknya budidaya lada hitam di Kabupaten Jembrana. Berikut ini klimogram hasil analisis unsur-unsur iklim Kabupaten Lampung Timur dan Kabupaten Jembrana :
1.      Klimograf temperatur (T) dan Curah Hujan (CH)
Gambar 1. Klimograf Curah Hujan dengan temperatur Kabupaten Lampung Timur dan Kabupaten Jembrana

2.      Klimograf Temeratur (T) dan Penyinaran Matahari (n/N)


Gambar 2. Klimograf Penyinaran Matahari dengan Temperatur
 Kabupaten Lampung Timur dan Kabupaten Jembrana

3.      Klimograf Curah Hujan (CH) dan Penyinaran Matahari (n/N)


Gambar 3. Klimograf Curah Hujan dengan Penyinaran Matahari
Kabupaten Lampung Timur dan Kabupaten Jembrana

Dari ketiga klimograf diatas dapat dilihat bahwa ketiganya memiliki pola yang berbeda (tidak sama). Artinya, unsur-unsur iklim di Kabupaten Jembrana tidak memenuhi syarat atau tidak sesuai untuk budidaya tanaman lada hitam. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, sebagai berikut:
1.      Perbedaan topografi antara Kabupaten Lampung Timur dengan Kabupaten Jembrana. Salah satu syarat tumbuh tanaman lada hitam adalah dapat tumbuh baik pada ketinggian 0-500 meter dpl.
2.       Pola curah hujan yang berbeda antara daerah produksi dengan daerah introduksi. Di daerah asal Kabupaten Lampung Timur curah hujan antara 2000-3000 mm/tahun, sedangkan curah hujan pada daerah introduksi (Kabupaten Jembrana) yaitu < 2000 mm/tahun.
3.      Jenis tanah pada daerah asal (Kabupaten Lampung Timur) berupa latosol dan padsolik merah kuning yang memiliki ph 5,6-5,8, sedangkan pada daerah introduksi merupakan jenis tanah yang terbentuk oleh bahan induk vukanik intermedier.
4.      Tipe iklim menurut Scmitdt Furgosen pada daerah asal (Kabupaten Lampung Timur) beriklim B, sedangkan pada daerah introduksi (Kabupaten Jembrana) tergolong dalam iklim C sampai D.







DAFTAR PUSTAKA

Tjasjono, Bayong. 1995. Klimatologi Umum. Penerbit ITB Bandung. Bandung
http://www.lampungtimurkab.go.id/. Diakses 29Desember 2013 20:12:00