Sejak era globalisasi berkembang di Negara Indonesia, rasanya sulit untuk menentukan pilihan apakah sepeda motor sebuah solusi ataukah masalah. Setidaknya di kota-kota besar yang semakin meningkat jumlahnya. Dapat kita lihat semua jalan dipenuhi dengan kendaraan sepeda motor. Hampir setiap rumah baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan memiliki minimal satu kendaraan sepeda motor. Di tempat- tempat umum seperti pasar, bioskop, swalayan tentunya akan ditemukan puluhan sepeda motor yang membanjiri tempat parkir.
Pencitraan sepeda motor rupanya sudah menjadi syarat mutlak bagi hampir seluruh warga Indonesia. Banyaknya manfaat dan harganya yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat merupakan beberapa alasan perlunya sepeda motor untuk dimiliki. Demikianlah maka banyak masyarakat yang tidak keberatan untuk membeli motor secara kredit demi memiliki sepeda motor. Pemerintah sebenarnya ikut andil dalam meningkatnya konsumsi sepeda motor oleh masyarakan Indonesia. Banyak Perusahaan asing yang berlomba-lomba memasarkan produk sepeda motor ke Indonesia karena konsumennya yang mudah dipengarui oleh iklan yang tidak menjanjikan tersebut. Pembatasan masuknya barang-barang ke Indonesia kurang optimal sehingga motor yang bervariasi dan harganya yang bervariasi mudah masuk ke Indonesia. Lantas sebenarnya sepeda motor merupakan masalah ataukah solusi? Melihat kondisi di pedesaan yang akses jalan kurang memadai dan biaya angkutan umum yang relatif mahal maka sepeda motor menjadi solusi terbaik. Namun apabila berkaca pada kondisi kota-kota besar, sepeda motor sangat menjadi masalah bagi pengguna jalan maupun kondisi social masyarakan disekitar. Sehingga sebutan solusi atau masalah untuk sepeda motor sebenarnya relatif dan kontekstual. Terdapat sedikitnya tiga golongan yang memandang mengenai keberadaan sepeda motor. Pertama golongan yang menganggap sepeda motor merupakan solusi, golongan yang kedua menganggap bahwa sepeda motor merupakan masalah dan golongan ketiga yaitu kelompok yang tidak terlalu berpengaruh ada dan tidaknya sepeda motor.
Berdasarkan data dari Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, yang didapat Kamis 27 Mei 2010, jumlah kendaraan roda dua yang berada di wilayah hukum Polda Metro Jaya setiap tahunnya naik hingga 1 juta unit. Padahal setiap hari lebih dari 890 sepeda motor baru terdaftar di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Hingga Mei 2010, jumlah kendaraan roda dua di jalan Jakarta mencapai 8.087.118 unit.
Dapat diperkira berapa banyak kendaraan bermotor yang membanjiri kepulauan Indonesia pada tahun 2020. Penggunaan Sepeda motor di kota – kota besar menimbulkan banyak masalah. Di Jakarta saja misalnya, kemacetan selalu terjadi akibat banyaknya sepeda motor yang beroperasi. Hal ini berimbas pada kesenjangan sosial seperti , keterlambatan menjadi alasan para pegawai negeri maupun perusahaan swasta bahkan pelajar dan mahasiswa. Pencitraan kualitas transportasi Indonesia yang rendah dimata Negara asing yang berimbas pada minimnya minat warga asing untuk berkunjung ke Indonesia. Sampai dengan saat ini jumlah kendaraan bermotor di seluruh Indonesia telah mencapai lebih dari 20 juta yang 60% adalah sepeda motor sedangkan pertumbuhan populasi untuk mobil sekitar 3-4% dan sepeda motor lebih dari 4% per tahun (data dari Dep. Perhubungan). Menurut data terakhir dari Gaikindo pertumbuhan pasar penjualan kendaraan baru untuk roda 4 naik hampir 25 % pada tahun 2003. Sedangkan pertumbuhan pasar penjualan sepeda motor naik hampir 35 % pada tahun 2003. Dengan tidak adanya suatu peraturan yang tegas mengenai emisi gas buang dan partisipasi dari produsen kendaraan di Indonesia maka pencemaran udara di Indonesia akan semakin meningkat pula. Minyak bumi merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, melihat data jumlah kendaraan bermotor hingga delapan jutaan maka diperkirakan bahan bakar yang digunakan sekitar 5.760 juta liter pertahun apabila perharinya pengendara menggunakan dua liter perhari. Dapat dibayangkan beberapa tahun kedepan persediaan bahan bakar akan menipis. Bahan bakar tidak hanya dikonsumsi oleh kalangan pengendara bermotor saja namun perusahaan-perusahaan swasta maupun negeripun menggunakan bahan bakar untuk memproduksi barangnya. Sehingga keberadaan sepeda motor yang berlebihan juga akan mempengaruhi menurunnya kualitas dan kuantitas produk-produk Indonesia. Produsen dalam negeri akan meningkatkan harga produknya karena modal yang dikeluarkan lebih tinggi sedangkan kualitas sulit dikendalikan pula sehingga konsumen asing kurang berminat dan berakibat pada pendapatan Negara maupun produsen Indonesia.
Jawa Barat merupakan setitik contoh akibat meningkanya jumlah kendaraan bermotor yang beroperasi. Setiap harinya 45 korban kecelakaan akibat sepeda motor. Sementara itu, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Suroyo Ali Muso mengatakan, total korban kecelakaan lalu lintas di Indonesia mencapai angka 94 ribu orang per tahun, dengan angka kematian sekitar 19 ribu orang per tahun. Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor merupakan yang terbanyak, karena sepeda motor mencakup 70 persen dari jumlah kendaraan yang terdaftar. Kecelakaan yang terjadipun merugikan Negara karena anggaran yang dikeluarkan untuk nilai biaya sosila sangat tinggi yang mencapai 41 Triliun pertahunnya. Alangkah besar dana yang dikeluarkan akibat semrawutnya transportasi di Indonesia. Apabila dana tersebut dialihkan untuk pengadaan transportasi umum dan perbaikan jalan tentunya dapat bermanfaat jangka panjang bagi semua kalangan dan dapat pula mengurangi angka kecelakaan yang sering terjadi saat ini.
Ketergantungan bangsa terhadap produsen sepeda motor semakin tinggi. Jepang dan Cina merupakan beberapa Negara produsen sepeda motor yang massif dikenal masyarakat Indonesia. Perusahaan motor Negara tersebut sudah berdiri di Indonesia. Hal ini dipicu karena 20% dari total produksi sepeda motor dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Walaupun pajak yang diberikan oleh perusahaan tersebut untuk pemerintah cukup besar namun imbasnya lebih krusial untuk bangsa ini.
Setiap masalah pasti ada solusinya, namun apakah pemerintah sudah serius dalam menyelesaikan transportasi di Negara ini? Apakah masyarakat Indonesia mampu bertahan tanpa adanya sepeda motor? Menciptakan angkutan umum yang berstandar dan terjangkau seharusnya segera dilakukan oleh pemerintah perhubungan. Hal tersebut akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memudahkan petugas untuk memonitori sirkulasi kendaraan yang beroperasi di suatu wilayah. Pengadaan kendaraan tersebut seharusnya fokus dan intens dilakukan di satu kota besar yang mengalami masalah transportasi hingga dapat menjadi kota percontohan efisiannya transportasi di kota tersebut. Setelah adanya satu bukti pemerintah dapat menjadikannya sebagai kebijakan yang harus diterapkan pada masing-masing daerah di Indonesia. Perbaikan pemahaman mengenai efek dari sepeda motor harus tersampaikan pada masyarakat Indonesia melalui media. Publikasi tentang semangat bersepeda ataupun penggunaan transportasi umum juga perlu diramaikan oleh perfilman, iklan maupun pemerintah.
Berkaca dengan negeri matahari, setitik bahan bakar minyak dapat menghasilkan sebuah motor. Alangkah produktifnya masyarakat jepang, dan mungkinkah kita dapat mencontonya walau sedikit saja? Film-film yang diproduksi jepang juga mendukung semangat bersepeda dan cinta produk dalam negeri serta budaya malu yang telah terinternalisasi dalam diri generasi muda apabila tidak dapat menghasilkan karya untuk negerinya membuat sedikitnya sepeda motor yang beroperasi di negeri tersebut. Melihat dampak akan sepeda motor baik jangka panjang maupun saat ini, pembatasan penggunaan sepeda motor mungkin harus segera dilakukan di negeri tercinta indonesia. Walaupun citra sepeda motor relatif dan kontekstual bagi masing-masing daerah dan penggunanya namun kebijakan yang moderat untuk kedua masalah tersebut harus segera dirancang dan diaplikasikan di negeri ini. Apabila kebijakan tersebut segera terealisasikan penduduk Indonesia akan semakin makmur adil dan damai. Efeknyapun juga akan dirasakan oleh pemerintah Indonesia .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar