Rabu, 04 Januari 2012

Antara Sebuah Solusi dan Masalah

Sejak era globalisasi berkembang di Negara Indonesia, rasanya sulit untuk menentukan pilihan apakah sepeda motor sebuah solusi ataukah masalah. Setidaknya di kota-kota besar yang semakin meningkat jumlahnya. Dapat kita lihat semua jalan dipenuhi dengan kendaraan sepeda motor. Hampir setiap rumah baik di daerah perkotaan maupun di pedesaan memiliki minimal satu kendaraan sepeda motor.  Di tempat- tempat umum seperti pasar, bioskop, swalayan tentunya akan ditemukan puluhan sepeda motor yang membanjiri tempat parkir.
Pencitraan sepeda motor rupanya sudah menjadi syarat mutlak bagi hampir seluruh warga Indonesia. Banyaknya manfaat  dan harganya yang terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat merupakan beberapa alasan  perlunya  sepeda motor  untuk dimiliki. Demikianlah maka banyak masyarakat yang tidak keberatan untuk membeli motor secara kredit demi memiliki sepeda motor.  Pemerintah sebenarnya ikut andil dalam meningkatnya konsumsi sepeda motor oleh masyarakan Indonesia. Banyak Perusahaan asing yang berlomba-lomba memasarkan produk sepeda motor ke Indonesia karena konsumennya yang mudah dipengarui oleh iklan yang tidak menjanjikan tersebut. Pembatasan masuknya barang-barang ke Indonesia kurang optimal sehingga motor yang bervariasi dan harganya yang bervariasi mudah masuk ke Indonesia. Lantas sebenarnya sepeda motor merupakan masalah ataukah solusi? Melihat kondisi di pedesaan yang akses jalan kurang memadai dan biaya angkutan umum yang relatif mahal  maka sepeda motor menjadi solusi terbaik. Namun apabila berkaca pada kondisi kota-kota besar, sepeda motor sangat menjadi masalah bagi pengguna jalan maupun kondisi social masyarakan disekitar. Sehingga sebutan solusi atau masalah untuk sepeda motor sebenarnya relatif dan kontekstual. Terdapat sedikitnya tiga golongan yang memandang mengenai keberadaan sepeda motor. Pertama golongan yang menganggap sepeda motor merupakan solusi, golongan yang kedua menganggap bahwa sepeda motor merupakan masalah dan golongan ketiga yaitu kelompok yang tidak terlalu berpengaruh ada dan tidaknya sepeda motor.
Berdasarkan data dari Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, yang didapat Kamis 27 Mei 2010, jumlah kendaraan roda dua yang berada di wilayah hukum Polda Metro Jaya setiap tahunnya naik hingga 1 juta unit. Padahal setiap hari lebih dari 890 sepeda motor baru terdaftar di wilayah hukum Polda Metro Jaya. Hingga Mei 2010, jumlah kendaraan roda dua di jalan Jakarta mencapai 8.087.118 unit.
Dapat diperkira berapa banyak kendaraan bermotor yang membanjiri kepulauan Indonesia pada tahun 2020. Penggunaan Sepeda motor di kota – kota besar menimbulkan banyak masalah.  Di Jakarta saja misalnya, kemacetan selalu terjadi akibat banyaknya sepeda motor yang beroperasi. Hal ini berimbas pada kesenjangan sosial seperti , keterlambatan menjadi alasan para pegawai negeri maupun perusahaan swasta bahkan pelajar dan mahasiswa. Pencitraan kualitas transportasi Indonesia yang rendah dimata Negara asing yang berimbas pada minimnya minat warga asing untuk berkunjung ke Indonesia. Sampai dengan saat ini jumlah kendaraan bermotor di seluruh Indonesia telah mencapai lebih dari 20 juta yang 60% adalah sepeda motor sedangkan pertumbuhan populasi untuk mobil sekitar 3-4% dan sepeda motor lebih dari 4% per tahun (data dari Dep. Perhubungan). Menurut data terakhir dari Gaikindo pertumbuhan pasar penjualan kendaraan baru untuk roda 4 naik hampir 25 % pada tahun 2003. Sedangkan pertumbuhan pasar penjualan sepeda motor naik hampir 35 % pada tahun 2003. Dengan tidak adanya suatu peraturan yang tegas mengenai emisi gas buang dan partisipasi dari produsen kendaraan di Indonesia maka pencemaran udara di Indonesia akan semakin meningkat pula. Minyak bumi merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, melihat data jumlah kendaraan bermotor hingga delapan jutaan maka diperkirakan bahan bakar yang digunakan sekitar 5.760 juta liter pertahun apabila perharinya pengendara menggunakan dua liter perhari. Dapat dibayangkan beberapa tahun kedepan persediaan bahan bakar akan menipis. Bahan bakar tidak hanya dikonsumsi oleh kalangan pengendara bermotor saja namun perusahaan-perusahaan swasta maupun negeripun menggunakan bahan bakar untuk memproduksi barangnya. Sehingga keberadaan sepeda motor yang berlebihan juga akan mempengaruhi menurunnya kualitas dan kuantitas produk-produk Indonesia. Produsen dalam negeri akan meningkatkan harga produknya karena modal yang dikeluarkan lebih tinggi sedangkan kualitas sulit dikendalikan pula sehingga konsumen asing kurang berminat dan berakibat pada pendapatan Negara maupun produsen Indonesia.
Jawa Barat merupakan setitik contoh akibat meningkanya jumlah kendaraan bermotor yang beroperasi. Setiap harinya 45 korban kecelakaan akibat sepeda motor. Sementara itu, Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Suroyo Ali Muso mengatakan, total korban kecelakaan lalu lintas di Indonesia mencapai angka 94 ribu orang per tahun, dengan angka kematian sekitar 19 ribu orang per tahun. Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor merupakan yang terbanyak, karena sepeda motor mencakup 70 persen dari jumlah kendaraan yang terdaftar. Kecelakaan yang terjadipun merugikan Negara karena anggaran yang dikeluarkan untuk nilai biaya sosila sangat tinggi yang mencapai 41 Triliun pertahunnya. Alangkah besar dana yang dikeluarkan akibat semrawutnya transportasi di Indonesia. Apabila dana tersebut dialihkan untuk pengadaan transportasi umum dan perbaikan jalan tentunya dapat bermanfaat jangka panjang bagi semua kalangan dan dapat pula mengurangi angka kecelakaan yang sering terjadi saat ini.
Ketergantungan bangsa terhadap produsen sepeda motor semakin tinggi. Jepang dan Cina merupakan beberapa Negara produsen sepeda motor yang massif dikenal masyarakat Indonesia. Perusahaan motor Negara tersebut sudah berdiri di Indonesia. Hal ini dipicu karena 20% dari total produksi sepeda motor dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Walaupun pajak yang diberikan oleh perusahaan tersebut untuk pemerintah cukup besar namun imbasnya lebih krusial untuk bangsa ini.
Setiap masalah pasti ada solusinya, namun apakah pemerintah sudah serius dalam menyelesaikan transportasi di Negara ini? Apakah masyarakat Indonesia mampu bertahan tanpa adanya sepeda motor? Menciptakan angkutan umum yang berstandar dan terjangkau seharusnya segera dilakukan oleh pemerintah perhubungan. Hal tersebut akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memudahkan petugas untuk memonitori sirkulasi kendaraan yang beroperasi di suatu wilayah. Pengadaan kendaraan tersebut seharusnya fokus dan intens dilakukan di satu kota besar yang mengalami masalah transportasi hingga dapat menjadi kota percontohan efisiannya transportasi di kota tersebut. Setelah adanya satu bukti pemerintah dapat menjadikannya sebagai kebijakan yang harus diterapkan pada masing-masing daerah di Indonesia. Perbaikan pemahaman mengenai efek dari sepeda motor harus tersampaikan pada masyarakat Indonesia melalui media. Publikasi tentang semangat bersepeda ataupun penggunaan transportasi umum juga perlu diramaikan oleh perfilman, iklan maupun  pemerintah.
Berkaca dengan negeri matahari, setitik bahan bakar minyak dapat menghasilkan sebuah motor. Alangkah produktifnya masyarakat jepang, dan mungkinkah kita dapat mencontonya walau sedikit saja? Film-film yang diproduksi jepang juga mendukung semangat bersepeda dan cinta produk dalam negeri serta budaya malu yang telah terinternalisasi dalam diri generasi muda apabila tidak dapat menghasilkan karya untuk negerinya membuat sedikitnya sepeda motor yang beroperasi di negeri tersebut. Melihat dampak akan sepeda motor baik jangka panjang maupun saat ini, pembatasan penggunaan sepeda motor mungkin harus segera dilakukan di negeri tercinta indonesia. Walaupun citra sepeda motor relatif dan kontekstual bagi masing-masing daerah dan penggunanya namun kebijakan yang moderat untuk kedua masalah tersebut harus segera dirancang dan diaplikasikan di negeri ini. Apabila kebijakan tersebut segera terealisasikan penduduk Indonesia akan semakin makmur adil dan damai. Efeknyapun juga akan dirasakan oleh pemerintah Indonesia .

Mengapa Harus Kartini

Peringatan yang tidak mengingatkan mungkin menjadi sebuah isu yang terlahir dari pemikiran dan pengamatan terhadap realita saat ini. Jepara, 21 April 1879 merupakan arti sejarah yang sering dikenang oleh para wanita Indonesia sehingga sudah menjadi tradisi bahwa momen tersebut menjadi hari peringatan kebangkitan wanita atau yang akrab dengan emansipasi wanita. RA Kartinilah wanita yang dilahirkan pada saat itu. Keturunan dari seorang priayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara dan ibunya M.A. Ngasirah dari keturunan Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Gadis Indonesia yang hidup pada zaman kolonialisme ini hanya mampu menempuh pendidikan ELS (Europese Lagere School) atau setara dengan sekolah dasar pada zaman sekarang. Pada usia 12 tahun beliau mengakhiri pendidikan formalnya karena pada zaman dahulu tradisi jawa mengharuskannya untuk dipingit atau segera dinikahi. Kecerdasannya dalam berbahasa Belanda membuat beliau tidak tinggal diam dalam kondisi pingitan tersebut. Waktu-waktunya digunakan untuk menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Kecerdasan dan kepeduliaannya terhadap kaum wanita saat itu menjadi kekuatan tersendiri dalam perjuangannya.
Begitu fenomenalnya seorang kartini dimata wanita Indonesia apakah sebanding dengan jasa yang ditelah diukirnya untuk bangsa ini? Pertanyaan itu selalu muncul disaat maraknya peringatan hari kartini. “Habis Gelap Terbitlah Terang” merupakan karya RA kartini yang monumental hingga saat ini. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini. Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.Gugatan-gugatan yang dilakukan oleh ibu kartini semata-mata dilandasi oleh faham pemikirannya Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air). Menikahnya RA Kartini dengan R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat seorang Bupati Rembang ternyata tidak menjadi penghalang dalam memperjuangkan nasib kaum wanita namun menjadi cahaya dalam merealisasikan rencana-rencana cerdas beliau dalam memperjuangkan pendidikan dan status social wanita pada zaman itu. Suaminya tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga  agar Kartini dapat menulis sebuah buku yang akhirnya sangat bermanfaat dalam perubah paradigm berfikir wanita Indonesia tentang status dan perannya sebagai wanita hingga saat ini.
Ternyata begitu banyak jasa-jasa beliau dalam mengawali kebangkitan peran wanita Indonesia. Namun jauh sebelum perjuangannya untuk mengangkat derajat wanita ternyata ajaran islam sudah memuliakan kedudukan  wanita. Hal ini dikuatkan oleh kisah sejarah perjuangan Muhammad saw dimana pada masa jahiliyyah setiap bayi perempuan yang lahir dikubur hidup-hidup, kemudian datanglah islam mengangkat derajat wanita pada tempat yang mulia. Sejatinya pemikiran-pemikiran emansipasi yang dicetuskan oleh kartini tidak menyimpang ajaran agama islam. Namun semakin sedikitnya pemahaman agama mengenai kedudukan wanita terhadap laki-laki menjadikan emansipasi sebagai pembenaran dalam kebebasan bertindak dalam interaksi antara wanita dan pria.
Nilai-nilai keKartiniaan seharusnya dapat terinternalisasikan dalam diri setiap wanita Indonesia namun dengan berlandaskan pemahaman akan nilai yang  diaplikasikan dalam keseharian berinteraksinya. Dalam hadist Nabi Muhammad saw,  menjadi manusia yang beruntung sejatinya harus selalu mengevaluasi pribadinya agar menjadi pribadi yang senantiasa lebih baik dari sebelumnya. Baik dari sisi pemahaman ilmu, interaksi, serta akhlaknya pada alam, manusia dan Sang Pencipta. Islam memberika model wanita-wanita yang baik dan wanita yang buruk dalam Al Qur’an. Hal tersebut seharusnya menjadi dasar seorang wanita muslim dalam bertingkahlaku. Namun dalam realisasinya banyak wanita muslim yang tidak memahami ajaran agamanya sehingga banyak yang terperosok dalam kerugian. Sehingga menjadi wanita yang ideal suatu kaharusan. Namun sulit rasanya untuk menentukan parameter wanita yang ideal itu,  karena setiap individu memiliki paradigm berfikir yang berbeda terhadap suatu permasalahan. Akantetapi, setidaknya parameter tersebut harus dilandasi oleh pedoman hidup yang dijamin kebenarannya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah. Komparasi nilai-nilai kekantinian dan wanita-wanita mulia yang dikisahkan dalam Al Qur’an dapat menjadi model kita sebagai wanita muslim sejati.

Kebijakan ekonomi Neo-liberal :Pemiskinan bagi bangsa

Laju globalisasi di berbagai sektor secara massif tidak bisa dipungkiri telah membawa kemajuan yang begitu pesat. Bahkan tidak sedikit yang menganggap bahwa kemajuan yang dihasilkan globalisasi berbanding lurus dengan kesejahteraan dan kemakmuran yang dicapai oleh masyarakat dunia. Namun berbagai fakta berupa publikasi maupun hasil survey yang ditampilkan untuk menjustifikasi kemajuan yang dicapai sering mengabaikan atau justru “melupakan” fakta yang lain. Dalam artian kemajuan yang ditafsirkan dengan deretan angka-angka mengagumkan tersebut justru seolah mengaburkan fakta munculnya persoalan ketimpangan atau kesenjangan sosial yang terjadi.
Persoalan kemiskinan menjadi masalah krusial berkaitan dengan kesenjangan sosial yang terjadi saat ini. Bisa kita katakan bahwa munculnya fakta kemiskinan sekaligus bisa menjadi ukuran keberhasilan atau kegagalan sebuah proyek pembangunan di sebuah negara. Ketika persoalan kemiskinan dan pengangguran bisa ditekan secara drastis, itu berarti bahwa proses pembangunan bisa membuka lapangan kerja seluas-luasnya yang berarti potensi masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya secara ekonomi relatif bisa diwujudkan. Namun sebaliknya, apabila proses pembangunan berjalan secara tidak merata kemungkinan besar justru akan menimbulkan kemiskinan dan pengagguran yang semakin signifikan.
Banyak pendekatan yang bisa digunakan untuk melihat dan menganalisa faktor-faktor yang mendasari munculnya realitas kemiskinan. Namun tidak banyak pendekatan yang mampu menelisik lebih jauh mengenai faktor fundamental dari kemiskinan itu sendiri bahkan justru menjauhkan dan mengaburkan fakta kemiskinan itu sendiri. Pendekatan-pendekatan dominan yang dipubikasikan berupa data-data hasil survey sering hanya berupa deretan rumus matematis yang mekanik dan cenderung terlalu simplistis. Akibatnya solusi yang diterapkan pun sangat tentatif dan dan tidak menjawab akar persoalan yang sebenarnya.

Untuk melihat bagaimana neoliberalisme menjadi salah satu penyebab proses pemiskinan, maka kita bisa berangkat dari dua cara pandang. Pertama, dengan melihat bagaimana konsepsi neoliberalime terhadap prinsip “common good” atau kebaikan bersama atau lebih sederhananya bagaimana neoliberalisme memandang konsep-konsep universal seperti keadilan, kesejahteraan untuk masyarakat. Kedua, dengan langsung melihat manifestasi prinsip-prinsip dasar diatas dengan menilik varian kebijakan ekonomi politik yang diterapkan.
            Menurut Harvey, neoliberalisme memandang bahwa kepercayaan etis seperti; pembagian kerja, relasi sosial, cara hidup dan berpikir, aktivitas reproduksi, mesti dibingkai dalam apa yang disebut sebagai relasi-relasi kontrak. Dalam artian bahwa seluruh aktivitas manusia yang sifatnya merupakan fitrah manusia diarahkan untuk mengabdi kepada proses transaksional dalam pasar. Dengan demikian ide mengenai kesejahteraan, kemakmuran, kebaikan bersama akan mustahil dicapai ketika asumsinya tidak dalam kerangka untung dan rugi. Dan logika ini pula yang digunakan ketika berbagai hal yang seharusnya menjadi tanggungjawab negara kemudian dialihkan menjadi tanggungjawab personal.
            Dalam praktek sehari-hari logika ini nampak begitu nyata. Lihat misalnya bagaimana ketika hak-hak dasar masyarakat (pendidikan, kesehatan, pangan dan sebagainya) yang seharusnya menjadi tanggungjawab negara kemudian diserahkan ke mekanisme pasar. Itu berarti bahwa hak-hak dasar tersebut menjadi komoditi komersial dan yang paling bisa mengaksesnya tentu adalah yang menguasai modal.
            Prinsip-prinsip dasar neoliberalisme tersebut kemudian juga terejawantah dalam berbagai varian kebijakan ekonomi politik yang kemudian dijalankan oleh mayoritas negara-negara di dunia saat ini dengan kadar yang berbeda-beda tentunya. Dan yang perlu dipahami bahwa hampir sering kebijakan tersebut tidak dengan suka rela dijalankan oleh suatu negara tapi justru melalui proses yang direkayasa sedemikian rupa. Dan ini bisa terlihat bagaimana proses pemiskinan dijalankan dengan menggunakan utang luar negeri sebagai medianya. Korten menjelaskan bagaimana Negara-negara Dunia Pertama melalui lembag-lembaga multilateral (IMF dan Bank Dunia) menciptakan ketergantungan melalui media utang luar negeri. Untuk konteks Indonesia saja misalnya karena rasio utang luar negeri kita yang begitu tinggi sehingga anggaran untuk penyediaan kebutuhan pokok masyarakat mesti dipotong dengan persentase yang besar untuk membayar utang luar negeri. Dan berharap utang luar negeri bisa menstimulus pertumbuhan ekonomi domestik pun ternyata kurang beralasan karena selama ini utang luar negeri justru hanya digunakan untuk sektor-sektor yang tidak riil seperti sektor keuangan sementara sektor ekonomi riil yang bersentuhan langsung dengan masyarakat menengah kebawah justru tidak terjamah.
            Setelah menerima utang luar negeri negara-negara peminjam selain harus membayar utang (bunga plus pokok), juga diharuskan untuk menjalankan berbagai kebijakan yang disebut kebijakan penyesuaian struktural (SAP). Paket kebijakan ini harus dijalankan oleh negara peminjam paling tidak karena dua alasan. Pertama, untuk mereformasi sistem ekonomi dalam negeri yang merupakan bahasa lain dari upaya untuk meminimalisir hambatan terwujudnya pasar bebas. Kedua, untuk mengintegrasikan pasar domestik ke pasar global. Secara umum kebijakan penyesuaian struktural ini bisa kita batasi dalam 3 aspek, yaitu, liberalisasi, privatisasi dan deregulasi. Ketiganya merupakan pilar dari konsep pemulihan ekonomi negara-negara berkembang, yang kemudian disebut sebagai Washington Consensus.
            Aspek-aspek diatas perlu dipahami sebagai kesatuan sehingga prakteknya disebuah negara dijalankan secara bersamaan. Liberalisasi dalam berbagai sektor pada dasarnya dilakukan untuk menghilangkan aturan yang dapat membatasi masuknya modal asing dan menyerahkan semua aspek tersebut melalui mekanisme pasar. Dalam konteks WTO misalnya, Indonesia telah meratifikasi berbagai aturan yang mengharuskan kita untuk meliberalisasi berbagai sektor yang dahulu mendapat subsidi pemerintah. Subsidi bagi aturan ini dianggap sebagai hambatan non-tarif yang akan menghalangi terwujudnya pasar bebas. Sejalan dengan liberalisasi berbagai sektor, maka dijalankan kebijakan privatisasi yang pada dasarnya adalah upaya untuk memindahkan hak kepemilikan asset-aset strategis (pendidikan, kesehatan, pangan, air, bahan bakar minyak) yang masih berlabel “negara” menjadi “swasta”. Proses privatisasi selalu dijalankan dengan alasan efisisensi karena negara selalu dianggap tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk mengembangkan sektor-sektor produktif tanpa ada kolaborasi dari pihak asing. Dampak dari kebijakan ini tentu akan paling dirasakan oleh masyarakat bawah. Karena berbagai perusahaan atau asset yang berhubungan langsung dengan hak-hak dasar masyarakat tidak bisa lagi diperoleh secara murah apalagi gratis. Dan privatisasi berbagai sektor juga memicu pengangguran yang luar biasa karena kebijakan PHK missal yang diambil karena alasan efisiensi.
Dan untuk semakin memudahkan ini berlangsung maka dibuatlah aturan dalam skema deregulasi yang akan meminimalisir hambatan terbukanya pasar dalam negeri. Maka lahirlah aturan mengenai Penanaman Modal Asing (PMA) yang sangat berpihak ke peodal asing, Undang-Undang mengenai Perburuhan yang mengekang kebebasan buruh untuk berserikat dan menyuarakan aspirasi, dan bebagai aturan lainnya.
          



Kemiskinan adalah kondisi dimana seseorang tidak bisa memperoleh kebutuhan dasar bagi kelangsungan hidupnya sebagai manusia. Secara kritis, kita perlu melihat dan memahami bahwa pendefinisian dan klasifikasi mengenai kemiskinan akan lebih baik jika berkontribusi untuk menemukan akar kemiskinan itu sendiri dan pada gilirannya bisa mengkonstruksi ide-ide alternatif untuk menanggulanginya. Misalnya ketika melihat kemiskinan secara personal saja maka kemungkinan besar kita akan terjerumus pada “viktimisasi” atau menyalahkan korban. Pandangan ini tentu sangat menyesatkan karena dengan pandangan ini seolah-olah melihat agen (individu) terpisah dari strukturnya yakni relasi ekonomi politik. Atau pandangan yang lebih kalkulatif dimana kemiskinan diukur dengan angka-angka matematis yang pada akhirnya menganggap bahwa kemiskinan hanya karena persoalan mismanagement negara sehingga solusinya adalah peningkatan kapasitas penyelenggara negara. Dengan demikian berarti kita sekali lagi terjerumus pada pandangan yang sangat “personal”.
Menganalisa fakta kemiskinan tentu bisa menggunakan banyak perspektif tergantung bagaimana kita melihat realitas kemiskinan. Dalam tulisan ini, kami lebih melihat bahwa kemiskinan adalah persoalan struktural atau sistemik.

Kemiskinan yang merupakan kondidi dimana seseorang atau asyarakat tidak mampu memperoleh hak-hak dasarnya, perlu dilihat sebagai persoalan struktural namun bukan berarti menuutup peluang untuk melihatnya dari cara pandang yang lain. Dengan melihat kemiskinan secara struktural maka dalm menentukan solusi pemecahannya akan relatif mudah menentukan instrumennya. Kemiskinan struktural akan selalu berkorelasi dengan sistem ekonomi politik yang sedang dijalankan dan kemudian diturunkan melalui kebijakan dalam negeri.
Dalam konteks ini, maka bisa kita analisa bersama bagaimana sistem neoliberal dengan berbagai perangkat turunannya memiliki andil dalam proses pemiskinan secara global. Hal ini bisa terlihat mulai dari cara pandangnya tentang nilai-nilai yang sifatnya universal seperti kesejahteraan, kebaikan bersama dan kesejahteraan. Kemudian dalam prakteknya juga menimbulkan kesenjangan yang luar biasa dimana liberalisasi, privatisasi dan deregulasi merupakan mekanisme yang menempatkan para pemodal sebagai pemenang dalam kompetisi yang disebut sebagai pasar bebas.
            Selanjutnya tentu merumuskan apa yang paling bisa dilakukan. Anda mungkin pernah mendengar slogan selalu ada banyak alternatif . Slogan ini akan mengingatkan kita dengan negara-negara di Amerika Latin yang berpuluh-puluh tahun berjibaku dengan kebijakan neoliberal dan diperparah dengan pemerintahan diktator yang merupakan perpanjangan tangan imperium negara-negara maju. Resep neoliberal semisal pencabutan subsidi sosial (pendidikan, kesehatan, dan sebagainya) justru membuat mereka semakin miskin dan jauh dari sejahtera. Namun beberapa dekade terakhir, beberapa negara di kawasan ini telah mampu memberikan alternatif kepada negara-negara Dunia Ketiga yang sama-sama terjajah oleh kekuasaan modal. Dan ini tentu tdiak hadir begitu saja namun melalui perjuangan yang panjang.
            Kami kira bahwa negara seharusnya lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Kerjasama dalam berbagi bentuk terhadap pihak asing perlu ditinjau ulang jika berhubungan dengan asset-aset strategis dan bersentuhan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat. Dan perlu upaya yang lebih serius untuk mengelola asset dalam negeri yang begitu potensial dan diarahkan untuk kepentingan masyarakat secara umum. Dan dalam jangka panjang tentu perlu dipikirkan untuk meruuskan mode sistem ekonomi yang berbasis keadilan, kesejahteraan dan kebaikan bersama. 

renungan malam

 Untuk menuju sebuah kesuksesan selalu ada resiko yang menghadang, namun ketika kita selalu menghindari resiko maka selamanya kesuksesan itu tidak akan datang. Dalam mencapai sebuah kesuksesan tidak selalu harus bekerja keras namun bekerja keras hanya salah satu cabang dalam pengimplementasikan kerja cerdas dalam mencapai sebuah kesuksesan.  Sebuah kesuksesan diibaratkan suatu perjalan menuju tempat yang diimpikan , namun jalan yang harus dilewati penuh duri, penjahat yang menjamur serta jalan itu sangat rusak parah, dan kondisi seperti itu terjadi pada semua jalan menuju tempat itu, lalu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkannya?mau tidak mau suka tidak suka harus melewati jalan tersebu, namun tidak semua tipe orang bertindak seperti itu kebanyakan orang lebih suka menghindar atau bahkan menjauh dari sebuah resiko ataun  masalah, tapi bagi para pemenang dibenaknya selalu ada harapan dan mindsite yang terpatri bahwa dibalik resiko ada reword yang dihadiahkan Alloh pada orang-orang yang jarang berfikir seperti itu. Tak usah terlalu memikirkan targetan dari kerja-kerja yang dilakukan dalam mencapai kesuksesan yang telah direncanakan, mengapa? karena bukan hak kita penentu sebuah ketetapan, Allohlah yang Maha Berhak atas itu. Apabila berorientasi pada hasil maka kekecewaan yang sering didapat. Kesuksesan ibarat puncak gunung es, yang terlihat sangatlah kecil namun di bawah lautan tersimpan batang gunung yang sangat besar dan proses menuju sebuah kesuksesan ibarat batang yang besar tersebut . Para pemenang berkata bahwa kesuksesan hanya 1% sedangkan 99% adalah usaha-usaha yang dilakukan dalam mencapai kesuksesan. Tipe orang pemenang selalu setia pada proses yang dilalui bahkan menikmati bukan hanya sekedar asal jalan, karena dengan menikmati proses itulah sesungguhnya citra dari karakter kesuksesan yang kita desain.

Keyakinan dan kesuksesan
Siapapun dapat sukses jika  percaya ia mampu
Kemakmuran sejati adalah hasil yang pasti dari penempatan keyakinan yang benar pada diri sendiri dan sesama kita.(Benjamin burt, silversmith.
Berfikir positif , menerima apapun yang Alloh berikan , serta bersyukur dengan melejitkan potensi diri, nikmati proses perbaikan diri, tanpa henti disetiap detik yang di jala

Tak ada yang peduli dengan kita kecuali diri kita dan Alloh
Benarkah itu saudaraku?
Banyak persepsi yang mungkinakan muncul dari pernyataan itu . Manusia yang diciptakan oleh Alloh swt memiliki  sifat dan karakter yang sangat bervariatif selain hal itu Diapun memberikan kenikmatan pada hamba-Nya yang bervariatif pula baik kenikmatan iman, harta, keluarga,  pengetahuan, wawasan maupun kemampuan kita dalam menganalisis sebuah masalah. Hal tersebutlah penyebab pembeda  tanggapan atas pernyataan tersebut.
Orang yang berargumen bahwa selain Alloh dan diri kita ada bunda yang sangat peduli dengan kita. Saya sangat setuju akan hal itu, namun coba renungkan kembali, apakah bunda selalu ada disaat kita sedih, apakah beliau selalu memahami kondisi kita, apakah dia selalu member solusi atas masalah-masalah yang sedang kita hadapi, apakah disaat masalah sangat genting dan terlalu klimaks bagi kita apakah beliau mampu menyelesaikannya. Jawabannya iya bagi seseorang yang memiliki seorang bunda yang bijak dan berkasih sayang namun tidak bagi seseorang yang memiliki bunda yang biasa saja.  Mungkin terlalu radikal sekali pernyataan untuk seorang pahlawan kehidupan kita. Begitu banyak kasih saying seorang bunda terhadap anaknya begitu lama beliau mengandung kita, menyusui, menjaga kita disaat semua tertidur, kerewelan kita menjadi teman tidur baginya, air seni dan kotoran selalu datang tak terduga, mungkin disaat belia sedang tidur, bahkan sedang makan. Beliau rela dengan kelaparannya meninggalkan kenikmakan makanannya demi membersihkan kotoran yang ada pada diri kita hingga terkadang nafsu makannya hilang, namun semua itu tak semua anak memahami akan hal itu sehingga begitu banyak pemuda yang durhaka terhadap ibunya.
Jadi pernyataan mana yang benar?
Setiap pendapat tak ada yang dapat menyalahkan , karena orang yang berargumen tentunya memiliki sisi tersendiri dalam melihat suatu fenomena ataupun masalah yang ada tentunya dengan pendukung ilmu-ilmu yang dimilikinya. Ibu… kata yang sangat indah, merdu didengar, sejuk bagai salju dan bagai oaese di gurun yang sangat panas. Tapi sebenarnya siapakah yang memberikan hadiah yang luar biasa tersebut, makhluk yang belas kasih, penyayang, penyabar, pemberi apapun yang anaknya pinta walaupun tak ada, tentunya akan segera diusahakannya. Wah luar biasa sekali wahai ibu…. Makhluk yang luar biasa tentunya diciptakan oleh yang maha dasyat, makhluk yang penyayang, penyebar, kasih sanyang tentunya diciptakan oleh zat yang memiliki sifat lebih dari itu semua. Betapa sayangnya Alloh terhadap kita. Diri yang penuh dosa, hina dan maha membutuhkan ini dititipkan pada makhuk yang luar biasa yaitu ibu. Alloh begitu banyaknya nikmat-Mu tak mampu diri ini menghitungnya. Engkau yang maha pengasih, Penyayang, Raja, Suci, Sejahtera, Terpercaya, memelihara, Perkasa, Kuasa, memilki kebenaran, Pencipta, Mengadakan, Membuat bentuk, Pengampun, Perkasa, Pemberi, Pemberi rezeki, Pembuka, Mengetahui, Menyempitkan, Melapangkan, Merendahkan, Meninggikan, memuliakan, Menghinakan, Mendengar, Melihat, Memutuskan hokum, Adil, lembut, mengetahui, Pengampun, penyantun, Agung, Pengampun, menerima syukur, Tinggi, Besar, Pemelihara, Membuat perhitungan, Luhur, Mulia, Mengawasi, memperkenannkan, Luas, Bijaksana, mencintai, ya Rabb…. Begitu banyaknya sifat-sifat yang wajib bagi Engkau, betapa kecilnya nikmat cintanya seorang ibu dibandingkan segalanya, namnterkadang diri ini banyak melupakan-Mu. Selalu ibu yang menjadi penolong buat kita, ibu yang menjadi penghibur bagi kita problem solver bagi masalah-masalah kita, sebagai sandaran disaat kita mulai rapuh, penegak kita disaat kita roboh dan masih banyak sekali kiasan-kiasan yang mengungkapkan kebaikan seorang ibu. Namun taukah saudaraku ibu hanyalah  distributor dari produsen segala kehidupan yang memberikan sedikit kenikmatan produk-Nya untuk konsumen yang sangat zhalim ini.
Terkadang banyak sekali manusia yang sangat mencintai ibunya namun tak mengenal siapa yang menciptakan ibunya. Saudariku banyak saudara kita yang ada di belahan dunia  sana yang belum mengenal bahkan tidak mengenal Alloh Zat yang Maha segala-segalanya. Tak semua saudara kita dapat menikmati indahnya hidup bersama syariat Islam yang menunjang diberbagai aspek kehidupan. Banyak manusia yang berintelektual namun tak tau tujuan hidupnya, ada tujuan hidup namun hanya jangka pendek, sebatas dunia yang ia capai. Begitu bersyukurnya diri ini yang Rabb atas segala nikmat yang telah Engkau limpahkan padaku.
Renungan malam dikala bergesernya orientasi hidupku

Memaknai Pluralisme dalam Kebangkitan Nasional

Memaknai Pluralisme dalam Kebangkitan Nasional
Mengamati  peluang kebangkitan sebuah Negara dengan tingkat kompleksitas permasalahan seperti di Indonesia, perlu didasari kecerdasan dan kearifan dalam  hubungannya dengan pemahaman yang mendasar. Karena boleh jadi keterpurukan bangsa saat ini dipicu oleh pemahaman pesimistis kaumnya yang tidak produktif dari gagasan kebangkitan itu sendiri. Menciptakan asa adalah titik terang dari gumpalan awan permasalahan bangsa ini. Cita-cita merupakan energi terdasyat yang mampu menggerakkan seseorang untuk maju. Para pahlawan yang tersejarahkan memiliki mimpi-mimpi yang jelas dan proses yang continue dalam merealisasikannya. Untuk itu tugas mendasar yang harus sesegera mungkin dilakukan adalah membangun kembali pemahaman realita ke-Indonesia-an dengan kacamata optimisme. Indonesia perlu dipahami dengan cara yang berbeda. Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya Alam baik di darat maupun laut yang secara langsung dapat dibuktikan di lapangan. Keberagaman suku, budaya dan kemajemukan agama mewarnai ruang panggung Indonesia. Fakta diataslah yang seharusnya dibaca dengan cara yag berbeda. Jika awalnya kondisi realitas tersebut menjadi asumsi-asumsi munculnya berbagai permasalahan yang krusial mengapa kita tidak mulai membalikkan asumsi yang ada serta merenungkan kemungkinan lain yang bisa saja muncul dari fakta-fakta tersebut di atas. Pluralisme yang sudah mengakar di Indonesia seharusnya menjadi potensi terbesar dalam mewujudkan kebangkitan nasional sendiri bukan menjadi pemecah atau disintegrasi  kesatuan berwarganegara.

Keberagaman budaya dapat memicu pertukaran pengetahuan dan kebiasaan-kebiasan positif dari masing-masing budaya tersebut. Contoh sedehananya yaitu, ketika seorang jawa yang memiliki tingkat kreatifitas yang tinggi bertemu dengan orang Bugis yang memilki etos kerja tinggi maka akan muncul semacam akulturasi positif jika keduanya sanggup untuk meruntuhkan tembok pembatas kulturnya masing-masing. Hal ini dapat berlaku dalam interaksi seseorang ahli displin ilmu tertentu dengan orang lain yang berbeda latar belakang pengetahuannya. Peluang-peluang tersebut seharusnya disadari dan dituangkan dalam ruang pikiran kita dengan berpijak pada gagasan akulturasi. Dalam membangun proyek kebangkitan Indonesia dibutuhkan ide segar yang kreatif dan inovatif. Ide segar tersebut dapat datang dari potensi keragaman yang dimiliki bangsa ini. 
Pluralisme bukanlah alasan pembenar bagi disintegrasi suatu tatanan masyarakat namun bagaimana kita memandang pluralisme sebagia asset berharga bangsa dalam mewujudkan kebangkitan bangsa.  Kearifan local yang beragam jika dikelola dengan baik sejatinya akan mampu menghasilkan ide-ide positif bagi gerak bangsa ke depan. Kompromi dan toleran terhadap suku maupun agama yang berbeda harus menjadi landasan dalam berinteraksi antar umat agar tercipta keserasian hidup berbangsa dan bernegara. Namun toleransi tersebut tidak mengabaikan hal-hal prinsip yang harus dijalankan dalam ajaran agama maupun budaya masing-masing. Kebangkitan nasional yang akrab diperingati pada tanggal 20 mei seharusnya menjadi pemantik semangat para pemuda untuk bangkit dan meneruskan perjuangan-perjuangan yang tertunda. Banyak hal yang dapat dilakukan oleh kaum muda untuk membuktikan kecintaannya dengan tanah air Indonesia.

 Ada tiga kapasitas yang harus dimiliki oleh para pemuda untuk bekal dalam mewujudkan bangsa yang beradab dan berkeadilan. Kapasitas ketakwaan yang difungsikan sebagai dasar. Ketakwaan yang diharapkan bukanlah ketakwaan secara personal tetapi didefinisikas secara social. Ketakwaan jenis ini akan mampu menghasilkan gerakan kolektif yang berhasil. Kapasitas ini akan membuat seseorang merasa terkontrol, walaupun seseorang memiliki kekuasaan atau jabatan besar dalam kelembagaan, namun mereka akan merasa selalu diawasi oleh Sang Pencipta Yang kedua yaitu kapasitas intelektualitas. Kapasitas intelektual yang mumpuni akan mengubah arah kepemimpinan baru dengan gagasan yang segar pula. Percuma apabila pemuda memilki kapasitas ketakwaan namun secara intelektual ia masih di bawah bayang-bayang gagasan lama, artinya para pemuda hanya akan muncul untuk mengikuti langkah pendahulunya sehingga ia tidak mampu menghadapi permasalahn kedepan yang semakin kompleks, karena tidak memiliki kapasitas intelektual yang diandalkan. Yang terakhir yaitu kapasitas jaringan. Jaringan yang kuat akan menentukan seberapa besar sumber daya yang dapat digunakan dalam meraih suatu tujuan. Semakin luas jaringan maka semakin besar pula sumber daya yang dapat direngkuh dan pengaruh yang dapat dihasilkan oleh pemuda hari ini.

Peluang Indonesia untuk kembali merebut mahkota kejayaannya justru disadari atau tidak, bersemayam dalam rahim kemajemukan yang telah diberi. Persoalannya adalah bagaimana kita mencari sintesis dan meruntuhkan tembok penghalang konservatif yang ada dalam pikiran kita. Dan inilah tanggungjawab pemuda hari ini untuk menyatukan gerak  menuju kebangkitan bangsa dalam kultur, agama dan idiologi yang berbeda-beda.